Feb 24, 2008

Diperbudak Nafsu

Pertanyaannya gampang, tapi jawabnya gamang + susah
Seberapa besar mampu mengendalikan nafsu?

Teman saya, (lagi-lagi, no name, takut digebukin) yang beratahan di pekerjaannya sekarang, bukan karena betah dan krasan dengan pekerjaannya. Bukan juga gembira ria dengan gajinya, BUKAN. Apalagi karena cinta lingkungan kerja nya, juga bukan (kata dia sih...Cuih) Meski saya juga belum tahu juga kebenarannya, yang memang masih terus patut dipertanyakan..



Ceritanya, 'nafsu' untuk mendapatkan kamera Canon S5 1S ini terlalu besar. Maksudnya, sebenarnya Teman saya ini sangat ingin mundur (katanyaaa seeeeehh) dari pekerjaannya sekarang. Tapi ingin mengumpulkan uang dulu yang cukup untuk segera beli Kamera ini....Katanya, impian Kawan saya ini memang bisa jadi tukang jeprat-jepret. Mungkin melanjutkan impian dan cita-citanya jadi tukang foto KTP di Balai Desa..

Jadi pertanyaannya, apakah kita masih mau
'melacurkan' diri sendiri, untuk memuaskan nafsu (baca:keinginan) kita agar terpenuhi ? Dan apakah Canon S5 1S itu cuma alibinya untuk bertahan, karena sebenarnya masih kerasan di tempat kerjanya? Hhmmmpphh, I don't know.... :)

3 comments:

Laga "Rah" said...

apa yang dialami teman anda, sama seperti yang saya rasakan..saya juga pengen punya kamera DSLR, tapi karena duit gak cukup, prosumer Canon S5 is cukup lah untuk pemula...

Bukan diperbudak nafsu, tapi mungkin teman anda memang punya keinginan untuk terus belajar, dan mencari ketrampilan..dan kali ini fotografi yang dijadikan sasaran untuk berkarya...kata kawan baik saya, "manusia selalu diselamatkan oleh ketrampilannya"...

Bisa jadi, sesudah kamera didapatkan...sesudah punya ketrampilan yang cukup..teman anda siap untuk terbang..meskipun jadi tukang foto keliling..haha...salut!
harusnya, anda sebagai temannya..kasih support dong..kasih dukungan finansial ato doa..

"manusia...mari berkreasi dan berkarya"

Novri said...

Ehm, ambil positifnya aja deh. Mungkin temanmu ingin punya kamera supaya dia bisa posting foto2nya di blog. Masak nulis blog cuma curhat melulu.. ;)

diksi said...

bagaimanapun juga lebih baik melacurkan diri pada diri sendiri, berkorban untuk suatu pencapaian..

hal itu pasti dialami banyak sekali orang2 yang masih harus berjuang untuk sekedar mencapai sesuatu..

sebuah analogi ekstrem: lihatlah diperempatan jalan, bawah jembatan layang, bus kota, banyak sekali mereka melacurkan diri sebagai peminta-minta, pengemis, pengamen, "sekedar untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan..."

berbeda dengan mereka yang dengan hanya menggerakan bibir kemudian dapat memiliki apa yang mereka inginkan, tentu saja karena yang merogoh kocek adalah orang tua dus famili lainnya

salam,
sekalian kesasar, skalian ngoment..